Presuposisi / Asumsi Dasar NLP

Jika kita mempelajari sesuatu, kita berusaha memahami sesuatu yang belum kita ketahui benar salahnya. Sebagai alat untuk memahami, kita memerlukan sesuatu yang dianggap benar dan dijadikan dasar bagi pembahasan selanjutnya. Landasan yang diperlakukan benar  seperti ini akan mempermudah kita dalam proses pembelajaran beikutnya. DiNLP, kita menyebutnya dengan Presuposisi NLP.

Misalnya, kita hendak belajar memainkan piano. Guru kita mengajarkan untuk menekan kunci C-D-E dengan jari jempol-telunjuk-tengah tangan kanan, sedangkan kunci FGA ditekan dengan jempol-telunjuk-kelingking tangan kiri. Dengan menganggap ajaran ini benar, kita mempunyai pedoman bagaimana bermain dengan baik.

Bila kita tinjau lebih lanjut, sebenarnya bisa saja kita menciptakan ajaran sendiri, misal kunci CD ditekan dengan telunjuk-tengah, EF dengan telunjuk-tengah, GABC dengan lainnya. Namun ketika kita menggunakan ajaran sendiri, tidak ada jaminan kita akan belajar dengan baik. Mengapa? Karena ketika ada situasi yang tidak cocok, misalnya partitur mengharuskan kita menekan kunci C lalu G, kita akan harus meggunakan telunjuk berturut-turut. Guru kita dengan presuposisi ajarannya punya jawaban atas problem belajar ini. Adapun Kita melakukan dua hal sekaligus: 1. belajar main piano sekaligus 2. menciptakan presuposisi belajar piano, akan harus memilih satu di antara dua: mengoreksi presuposisi yang berarti mengulang proses belajar, atau melanjutkan belajar dengan melanggar presuposisi yang berarti tiap saat  membuat presuposisi baru.

Presuposisi adalah alat ketika kita mempelajari sesuatu, agar kita mempuyai landasan. Selama belum menguasai, sebaiknya kita memanfaatkan presuposisi. Sesudah kita menguasainya, menjadi pilihan bagi kita untuk terus menggunakan atau memodifikasi atau menggantinya sama sekali.